Skip navigation

Ada banyak versi tentang hakekat siswa:

Menurut Socrates, siswa adalah pertanyaan-pertanyaannya.

Menurut Aristotheles, siswa adalah pengalaman-pengalamannya.

Menurut Piaget, siswa adalah bahasanya.

Menurut Plato, siswa adalah ide-idenya.

Siswa sepeti benih-benih yang tumbuh menurut perkembangannya masing-masing. Sehingga kita tidak dapat mengatur perkembangan dan menekan mereka harus menjadi seperti apa yang kita inginkan. Oleh karena itulah psikologi sangat penting untuk dipahami. Termasuk pengetahuan pengelompokkan oleh para ahli berdasarkan inteligensia pelakunya. Adapun adalah sebagai berikut:

a. Dalam kecakapan dasar umum (general intelligence), kategori ini terbagi lagi menjadi:

· Superior atau Genius

Mereka yang dapat bertindak jauh lebih cepat dan kemudahan dibandingkan dengan anggota kelompok lainnya.

· Normal

Mereka yang rata-rata atau pada umumnya dapat bertindak biasa dengan kecepatan dan ketepatan dan kemudahan seperti tampak sebagian orang.

· Sub normal atau mentally deffective

Mereka yan bertindak jauh lebih lambat kecepatan dan lebih banyak ketidakketepatannya dan kesulitannya dibnadingkan sebagian orang lainnya.

b. Dalam kecakapan dasar khusus (aptitudes, group factors)

Kecakapan ini meliputi bilangan (numerical abilities), bahasa (verbal abilities), tilikan ruang (spatial abilities), tilikan hubungan sosial(social abilities), dan gerak motoris(motorical abilities).

Dengan mengetahui pengelompokkan di atas, kita dapat mengklarifikasikan kecakapan siswa, walaupun mungkin tidak detail. Namun hal ini akan penting untuk menentukan perlakuan kepada siswa. Tetapi tidak kemudian mengistimewakan siswa yang di atas rata-rata dan memandang rendah siswa yang dibawah rata-rata.

Kita harus mengetahui kebutuhan siswa agar siswa dapat belajar matematika matematika dengan senang. Diantara kebutuhan siswa yaitu:

· Kebutuhan siswa akan motivasi

· Kebutuhan siswa akan belajar mandiri

· Kebutuhan siswa akan kerjasama dengan yang lain dalam belajar

· Kebutuhan siswa akan konteks

Piaget membagi proses perkembangan fungsi-fungsi dan perilaku kognitif, siswa SD yaitu anak yang berusia 7-11 atau 12 tahun, masuk ke dalam tahap concret operational. Dalam tahapan ini, anak mulai dapat mengklasifikasikan angka-angka atau bilangan dan sudah mulai mempunyai kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika walaupun masih terikat objek-objek konkret.

Sedangkan menurut Freud, berdasarkan perkembangan perilaku an objek pemenuhan kebutuhan dasar Psychoexual, anak berusia 6-12 tahun memasuki masa sekolah (Latery Period) disini berkembang perasaan-perasaan sosial.

Sumber:

Makmun, Abin Syamsuddin. 2004. Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: