Skip navigation

Pernahkah kita dengar sebuah kisah tentang seorang bayi yang ketakutan ketika dia akan diturunkan ke bumi? Dia terus bertanya kepada Tuhan siapa yang akan menjaganya, siapa yang akan melindunginya dari kejahatan dunia, siapa yang akan mengajarinya untuk mengenal Tuhannya? Akhirnya si bayi bertanya, “Tuhan boleh kah aku mengetahui nama malaikat di rumahku nanti?’. Tuhan pun menjawab, “Kau dapat memanggilnya IBU”.

Ya Ibu adalah malaikat itu. Ibu adalah hamba Allah yang setia dengan segala kesakitan, lebih memikirkan kepentingan dan mengantarkan kita kepada kecemerlangan. Ibu tak pernah mengharapkan apapun kecuali senyum dan bahagia kita. Kita selalu disebut dalam setiap doanya, kita selalu diingatnya dikala suka maupun dukanya. Namun apakah kita juga menyebut namanya dalam setiap doa kita? Apakah kita mengingatnya ketika kita bahagia. Pernahkah kita menyengaja menelpon beliau untuk mengetahui kabarnya? Bukan hanya ketika kita kehabisan jatah bulanan saja.

Sekarang mari kita bayangkan wajah Ibu kita masing-masing, panggil dia. Dan hadirkan dia dalam bayangan kita.. Mari kita pergi ke suatu masa, masa itu adalah milikmu dengannya. Ada seorang wanita dan seorang anak. Wanita itu adalah Ibu kita dan anak itu adalah kita. Dia tersenyum kepada anak itu dengan senyum yang menyejukkan hati, dengan sabar mengajari kata-kata sederhana kepada anak kecil itu. Wanita itu menyiapkan makanan dan menyuapinya dengan penuh kasih sayang. Berjalannya waktu, sang anak bertambah besar, diantarnya anak itu ke sekolah. Suatu ketika si anak demam, dia sakit. Lalu semalaman wanita yang tak kenal lelah itu tak tidur sekejappun. Yakinlah masa itu pernah terjadi dan wanita yang kita panggil IBU itu takkan pernah melupakannya. Tidakkah kita ingat masa itu? Sudahkah kita berbuat baik kepada Ibu-Bapak kita, seperti dalam Firman Allah SWT:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”(Q.S Luqman:14)

Sekarang kita disini yang mungkin merantau, tidakkah kita tahu berapa beratnya beliau melepas kita? Mungkin beliau menangis dibalik pintu ketika kita pergi. Namun demi masa depan kita, dia rela berjauhan dengan kita, belahan jiwanya. Apa kita telah menunaikan amanahnya? Atau malah kita melalaikannya? Sungguh jika kita telah melalaikan amanahnya, dan beliau tahu akan hal itu, tidakkah kau bayangkan betapa hancur hatinya. Bayangkan wajahnya yang sedih dan matanya yang menitikkan air mata karena perbuatan kita.

Jikalau kita tak merantau, mungkinkah waktu kita telah tersita oleh banyak hal yang merupakan hak beliau? Kita terlalu sibuk dengan teman-teman baru kita, organisasi kampus kita, dengan setumpuk tugas kita dan lain sebagainya. Sampai tak menyadari wajah beliau semakin sayu dan matanya cekung karena sakit. Sungguh terlalu!!!

“ Kembalilah engkau kepada keduanya. Maka buatlah keduanya tertawa sebagaimana sebelumnya engkau telah membuatnya menangis.”

(HR. Abu Dawud nomor 2528)

Sekarang,,tidak kah kita ingin meminta maaf atas kesalahan yang telah kita lakukan? Dan berterima kasih pada Orang tua kita, terutama pada Ibu Jika iya, lakukanlah sekarang!!! Sampaikan juga padanya rasa sayang mu padanya, “Ibu aku menyayangimu”. Sudah pernahkah kalimat itu kita ucapkan???(Nd826)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: